BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR
BELAKANG
Pendidikan secara praktis tak dapat
dipisahkan dengan nilai-nilai budaya. Dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan
sendiri, secara proses mantransfernya yang paling efektif dengan cara
pendidikan. Keduanya sangat erat sekali hubungannya karena saling melengkapi
dan mendukung antara satru sama lainnya.
seiring dengan kemajuan jaman, tradisi
dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga
keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya
masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan
budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk
menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang
berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau
budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.
B.RUMUSAN MASALAH
- Apa pengertian pendidikan itu ?
- Apa pengertian budaya itu?
- Bagaimana hubungan pendidikan dengan budaya?
- Bagaiman budaya carok di Madura?
C. TUJUAN
Berdasarkan
rumusan masalah diatas dapat di simpulkan bahwa tujuannya adalah untuk
mengetahui apa itu pendidikan ,budaya , bagaimana hubungan pendidikan dan
budaya.dan bagaimana budaya carok di
madura,
BAB 11
PEMBAHASAN
A. Pendidikan
1.Pengertian pendidikan
Dalam
pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan adalah sebagai usaha
manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik
jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Adapun
menurut Carter V.Good dalam Dictinary of Education bahwa pendidikan itu
mengandung pengertian:
1. Proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan
prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya
2. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan
yang terpimpin (misalnya sekolah) sehingga ia dapat mencapai kecakapan sosial
dan mengembangkan pribadinya.
Sedangkan
menurut konsep yang dikemukakan oleh Freeman Butt dalam bukunya yang terkenal
Cultural History of Western Education bahwa:Pendidikan adalah kegiatan menerima
dan memberikan pengetahuan sehingga kebudayaan dapat diteruskan dari generasi
ke generasi berikutnya.
Menurut
Hasan Langgulung dalam bahasanya mengenai pendidikan adalah aktifitas yang
dikerjakan oleh pendidikan dan filsafat-filsafat untuk menjelaskan proses
pendidikan, menyelaraskan, mengkritik dan merubahnya berdasar masalah-masalah
kontradiksi budaya.
2. Fungsi pendidikan
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang
nyata (manifes) berikut:
- Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
- Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
- Melestarikan kebudayaan.
- Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Menurut David Popenoe, ada empat
macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
- Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
- Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
- Menjamin integrasi sosial.
- Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
- Sumber inovasi sosial.
3. Tujuan pendidikan
Membicarakan
tujuan pendidikan akan menyangkut system nilai dan norma – norma dalam suatu
konteks kebudayaan ,baik dalam mitos kepercayaan dan religi,filsafat,ideology
dan sebagainya .tujuan pendidikan disuatu Negara akan berbeda dengan tujuan di
Negara lain ,sesuai dengan falsafah bangsa tersebut.Namun demikian dalam
menentukan suatu tujuan ,ada beberapa nilai yang perlu diperhatikan ,seperti
yang dikemukakan oleh UNESCO.
Tujuan
pendidikan itu harus mengandung tiga nilai dibawah ini,yaitu:
- Otonomi yang berarti memberikan kesadaran ,pengetahuan,dan kemampuan kepada individu maupun kelompok ,untuk dapat hidup mandiri,dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik
- equity (keadilan),yang berarti bahwa tujuan pendidikan tersebut harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi ,dengan memberinya pendidikan dasar yang sama .
- survival ,yang berarti bahwa ,dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dengan
ketiga nilai diatas ,pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi
yang baik ,manusia-manusia yang lebih berkebudayaan ,manusia sebagai individu
yang memiliki kepribadian yang lebih
baik.
B.BUDAYA
1.Pengertian budaya
Budaya atau yang dikenal dengan kata kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekertta yaitu kata Buddhayah, kata Buddhayah adalah bentuk jamak dari kata
buddhi yang berarti sebagai hal hal yang b Budaya menurut antropologi adalah
dasar terbentuknya kepribadian manusia. Budaya membentuk identitas seseorang,
identitas masyarakat, dan identitas suatu bangsa.
Pendidikan sebagai suatu proses merupakan interaksi antara pendidik
dan peserta didik dalam suatu masyarakat, pendidikan memiliki visi kehidupan
hidup dalam masyarakat. Pendidikan adalah proses menaburkan benih-benih budaya
dam peradaban manusia yang hidup yang dinafasi nilai-nilai atau visi yang
berkembang dalam masyarakat.
Kebudayaan adalah proses, yang berarti selalu berada dalam mode transformasi. Budaya yang tidak mengalami transformasi adalah budaya yang mati.
KebudayaanIndonesia
mengalami transformasi akibat pengaruh budaya Hindu, Islam, dan barat. Budaya
inilah yang berhasil membangun masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini.
Kebudayaan adalah proses, yang berarti selalu berada dalam mode transformasi. Budaya yang tidak mengalami transformasi adalah budaya yang mati.
Kebudayaan
Sedangkan
dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut dengan Culture, kata Culture sendiri
berasal dari kata latin colere yang berarti mengola Sendangkan Pengertian
budaya yang lebih lengkap, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan
dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan
secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang
berbada budaya dan menyesuiakan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa
budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya
bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan
perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak
kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan dibedakan antara kebudayaan (culture) dengan peradaban
atau sipilisasi (civilization). Kebudayaan sebagai kultur adalah pengertian
intrinsik dari budaya sebuah masyarakat atau sebuah bangsa, sementara dalam
sipilisasi berarti terarah pada masyarakat modern yaitu kehidupan masyarakat
yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan
nilai-nilai kemanusiaan (humanisasi).
C.HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN KEBUDAYAAN
Menurut
DR. Sahiq Sama'an dalam al-Syaibany (1979) pendidikan adalah pendidikan yakni
kegiatan yang dilakukan oleh pendidik-pendidik dan filosofis untuk menerangkan,
menyelaraskan, mengecam dan merubah proses pendidikan dengan
persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan didalamnya.
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan
merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari
sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai
budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut
tetap terpelihara, tulis Hasan Langgulung.
Maka sudah jelas bahwa pendidikan dan kebudayaan
sangat erat sekali huibugan karena keduanya berkesinambungan, keduanya saling
mendukung satu sama lainnya.
Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara
pendidikan dengan tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat betapapun
sederhananya masyarakat tersebut. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi sebagai
muatan budaya senantiasa terlestarikan dalam setiap masyarakat, dari generasi
ke generasi. Hubungan ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila para
pendukung nilai tersebut dapat menuliskannya kepada generasi mudanya sebagai
generasi penerus.
Transfer nilai-nilai budaya dimiliki paling
efektif adalah melalui proses pendidikan. Dalam
masyarakat modern proses pendidikan tersebut didasarkan pada program pendidikan
secara formal. Oleh sebab itu dalam penyelenggarannya dibentuk kelembagaan
pendidikan formal.
Seperti
dikemukakan Hasan Langgulung bahwa pendidikan mencakup dua kepentingan utama,
yaitu pengembangan potensi individu dan pewarisan nilai-nilai budaya. Maka
sudah jelas sekali bahwa kedua hal tersebut pendidikan dan kebudayaan berkaitan
erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa itu masing-masing,
kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan antara satu
sama lainnya.
Dikatakan
dengan pendapat Hasan Langgulung bahwa pendidikan dalam hubungan dengan
individu dan masyarakat, akan tetapi dapat dilihat bagaimana garis hubung
antara pendidikan dan sumber daya manusia. Dari sudut pandangan individu
pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan potensi individu, sebaliknya
dari sudut pandang kemasyarakatan pendidikan adalah sebagai pewarisan
nilai-nilai budaya.
Dalam pandangan ini, pendidikan mengemban dua
tugas utama, yaitu peningkatan potensi individu dan pelestarian nilai-nilai
budaya. Manusia sebagai mahluk berbudaya, pada hakikatnya adalah pencipta
budaya itu sendiri. Budaya itu kemudian meningkatkan sejalan dengan peningkatan
potensi manusia pencipta budaya itu.
antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang erat yang
berkenaan dengan hal nilai-nilai (HAR Tilaar, 1998:7). Menurut Tylor telah
terjalin tiga pengertian: manusia, masyarakat, budaya sebagai tiga dimensi
dalam hal yang sama. Pendidikan tidak terlepas dari kebudayaan dan hanya
terlaksana dalam suatu masyarakat. Kebudayaan memiliki tiga unsur penting, yaitu
sebagai tata kehidupan (order), sebagai proses, dan kebudayaan mempunyai visi
tertentu.
Pendidikan merupakan suatu sistem untuk
meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan dan sekaligus
sebagai upaya pewarisan nilai-nilai budaya bagi kehidupan manusia. Dengan
demikian, pendidikan merupakan produk budaya dan sebaliknya budaya merupakan
produk pendidikan. Brameld, menegaskan bahwa "proses kunci memperoleh
kebudayaan adalah belajar dan kemudian meneruskan serta mengubah apa yang dipelajari
itu".
Dengan demikian, Pendidikan adalah merupakan gejala
kebudayaan, Pandangan bahwa pendidikan merupakan gejala kebudayaan didasarkan
pada hal-hal berikut:
pertama, Manusia
Adalah Makhluk Budaya; Pendidikan hanya dapat dilakukan oleh makhluk yang berbudaya
dan yang menghasilkan nilai kebudayaan yaitu manusia. Hal ini juga yang
merupakan perbedaan antara manusia dan hewan dengan adanya budaya dan
pendidikan. Sifat dunia hewan statis, dimana instink dan dan reflek
sebagai pembatas (misalnya lingkungan air, udara dan tanah). Kehidupan
tersendiri bagi hewan tersebut. Sifat dunia manusia terbuka, dimana
manusia memberi arti bagi dunianya (secara kongkrit).
Kedua, Perkembangan Pendidikan Sejajar
Dengan Perkembangan Budaya; Pendidikan selalu berubah sesuai perkembangan
kebudayaan, karena pendidikan merupakan proses transfer kebudayaan dan sebagai
cermin nilai-nilai kebudayaan (pendidikan bersifat reflektif).
Pendidikan juga bersifat progresif, yaitu selalu mengalami perubahan
perkembangan sesuai tuntutan perkembangan kebudayaan. Kedua sifat tersebut
berkaitan erat dan terintegrasi. Untuk itu perlu pendidikan formal dan informal
(sengaja diadakan atau tidak). Perbedaan kebudayaan menjadi cermin bagi bangsa
lain, membuat perbedaan sistem, isi dan pendidikan pengajaran sekaligus menjadi
cermin tingkat pendidikan dan kebudayaan.
Ketiga, Pendidikan Informal dan Pendidikan Formal Sama
Derajatnya dan Harus Ada Kesejajaran Tujuan; Pendidikan informal lebih dahulu
ada dari pada pendidikan formal (education dan schooling), pendidikan informal
merupakan unsur mutlak kebudayaan untuk semua tingkat kebudayaan yang muncul
karena adanya pembagian kerja. Pada dasarnya keduanya disengaja dan gejala
kebudayaan, pemisahan keduanya tidak berguna. Tugas kebudayaan bukan memonopoli
lembaga pendidikan formal, tetapi kebersamaan warga dan negara karena segala
unsur kebudayaan bernilai pendidikan baik direncanakan atau tidak.
Dengan demikian pendidikan merupakan ikhtiyar
pembudayaan demi peradaban manusia. Tiap ikhtiyar pendidikan bermakna sebagai
proses pembudayaan dan seiring bersama itu berkembanglah sejarah peradaban
manusia. Seluruh sprektum kebudayaan hanya bisa dialihkan dari satu generasi ke
generasi lain melalui pendidikan. Kalau demikian halnya, maka pendidikan tidak
hanya merupakan prakarsa bagi terjadinya pengalihan pengetahuan dan ketrampilan
tetapi juga melalui pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial.
Nilai-nilai budaya yang diwariskan merupakan unsur luar
yang masuk ke dalam diri manusia, sementara dalam diri manusia ada unsur yang
menonjol keluar seperti perkembangan potensi yang dimiliki manusia. Tugas utama
pendidikan adalah berusaha mewariskan nilai-nilai budaya tersebut, sesuai
dengan potensi dan "lingkungan" pada individu dan masyarakat. Hasan
Langgulung, menyatakan sulit dibayangkan bahwa seseorang tanpa lingkungan yang
memberi corak kepada watak dan kepribadian, sebab "lingkungan" inilah
yang berusaha mewariskan nilai-nilai budaya yang dimilikinya dengan tujuan
memelihara kepribadian dan identitas budaya tersebut sepanjang zaman. Sebab
budaya dan peradaban bisa juga mati, apabila nilai-nilai, norma-norma dan
berbagai unsur lainnya yang dimiliki berhenti dan tidak berfungsi, artinya
tidak atau belum sempat mewariskan nilai-nilai tersebut pada generasi penerus
untuk diaplikasikan dalam kehidupan.
Maka pendidikan berada dalam maksud tersebut sebagai bagian dari
proses pembudayaan
Analogi kausal
:
Tidak ada suatu proses pendidikan tanpa kebudayaan dan tanpa
masyarakat, tidak ada suatu kebudayaan dalam pengertian suatu proses tanpa
pendidikan, proses kebudayaan dan pendidikan hanya dapat terjadi di dalam
hubungan antarmanusia dalam suatu masyarakat tertentu.
Pendidikan dikaitkan dengan proses pembudayaan dan peradaban. Tidak
mungkin peradaban dibangun tanpa budaya, namun budaya dapat dikembangkan tanpa
perlu modernisasi. Berarti pendidikan adalah proses yang menggabungkan konsep
membangun peradaban dan mengembangkan budaya kemanusiaan (a culture and
civilized human being).
Tonggak transformasi budaya terlihat pada masa Kebangkitan Nasional
(1908) dengan lahirnya kesadaran kemampuan intelektual sekelompok pemuda
Sekolah Dokter Jawa. Tahun 1928, transformasi budaya terjadi lagi melalui
Sumpah Pemuda sebuah gerakan emosional untuk bersatu sebagai Bangsa Indonesia .
tahun 1945 lahir Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
yang menyatukan kekuatan otot, otak, dan emosional untuk melahirkan bangsa dan
negara Republik Indonesia .
Tahun 1965 terjadi transformasi budaya dengan lahirnya orde baru sebagai orde
pembangunan. Tahun 1998 terjadi transformasi budaya ke arah Reformasi
demokratisasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Transformasi kebudayaan orde baru telah mengorbankan kemerdekaan dan
hak-hak asasi manusia. Terjadi marginalisasi nilai-nilai manusia, karena kepentingan
pertumbuhan nasional dan ekonomi yang hanya menguntungkan kroni-kroni penguasa.
Budaya egoisme dan kekuasaan sekelompok masyarakat telah menggantikan
nilai-nilai universal dari budaya yang hidup dalam masyarakat dan Bangsa Indonesia .
D.BUDAYA CAROK MADURA
Budaya Carok adalah tradisi pembunuhan karena alasan tertentu yang berkaitan
dengan harga diri dan kemudian diikuti oleh antar kelompok atau antar-klan
menggunakan senjata (biasanya celurit).Tidak ada peraturan resmi dalam
pertarungan ini karena carok merupakan tindakan yang dianggap negatif dan
kriminal dan ilegal. Ini adalah bagaimana orang Madura dalam mempertahankan
harga diri dan “keluar” dari masalah yang rumit.
Biasanya, “carok” adalah cara terakhir
oleh masyarakat Madura dalam memecahkan masalah. Carok biasanya terjadi ketika
masalah datang yang menyangkut kehormatan / kebanggaan bagi orang-orang Madura
(sebagian besar disebabkan ketidaksetiaan dan martabat / kehormatan keluarga)
Banyak yang menganggap carok adalah tindakan
keji dan bertentangan dengan ajaran agama meskipun orang Madura sendiri kental
dengan agama Islam secara umum, namun, secara individu, banyak yang masih
memegang tradisi carok.Kata carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang
berarti ‘bertarung dengan kehormatan’.
Adat
dan kepribadian orang Madura merupakan titik tolak terbentuknya watak dengan
prinsip teguh yang dipengaruhi oleh karakteristik geografis daerahnya. Satu
prinsip yang menjadi fenomena orang Madura, ialah dikenal sebagai orang yang
mampu mengambil dan menarik manfaat yang dilakukan dari hasil budi orang lain,
tanpa mengorbankan kepribadiannya sendiri. Demikian pula orang Madura pada
umumnya menghargai dan menjunjung tinggi rasa solidaritas kepada orang lain.
Sikap
hidup semacam ini, menjadikan orang-orang Madura diluar Madura mudah dikenal,
supel serta menunjukkan sikap toleran terhadap sesama. Kadang kontradiktif bila
melihat penampilan fisik bila dibandingkan kenyataan hidup yang sebenarnya.
Sebagai contoh, bila satu rumah tangga kedatangan tamu (apalagi tamu jauh),
dapat dipastikan mereka sangat dihormati. Mereka berani berkorban untuk menjamu
sang tamu, meski hanya secangkir air. Kalaupun dapat, mereka berusaha memuaskan
dengan jamuan lebih, bahkan berani mencari hutang demi menghormati tamu. Tapi
sebaliknya apabila penghargaan itu ditolak atau meski sedikit tidak mau
dicicipi suguhannya, maka tamu tersebut berarti dianggap menginjak penghargaan
tuan rumah. Dan kemungkinan semacam ini akan tumbuh benih-benih rasa benci dan
dendam.
Sebagai
suku yang hidup di kepualauan, orang Madura dijaman dulu kurang mendapat
kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Mereka sangat berhati-hati,
dan akibatnya sesuatu yang datang dari luar merupakan ancaman bagi dirinya.
Meskipun pada dasarnya mereka konservatif, yakni berusaha memelihara dan
menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya. Tapi dalam segi yang lain,
orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk menjamin dan bertahan
kelangsungan hidup, karena mereka didorong untuk menerima dan memanfaatkan
nilai-nilai yang terserap dari luar.
Banyak orang yang takut ketika bertemu dengan orang-orang Madura,
mereka beranggapan bahwa orang Madura sangat keras, sangar, dan pemberani.
Anggapan ini berawal dari tradisi yang sangat terkenal di Madura yaitu “Carok”.
Peristiwa ini terjadi apabila seseorang bersitegang dengan orang lain. Karena
prinsip orang Madura itu “Ango’ pote Tolang etembheng pote Matah”,
yang artinya lebih baik putih tulang dari pada putih mata, makna dari kalimat
ini adalah lebih baik mati dari pada harus menanggung malu.
Prinsip inilah yang membuat orang Madura
tempramental, karena mereka tidak mau malu di depan orang, jika mereka di buat
malu pasti mereka akan sangat marah, sampai akhirnya bersitegang dan akhirnya
“Carok”.
Menelusuri Sejarah Carok dan Celurit Carok dan celurit laksana dua
sisi mata uang. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan
orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan
simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan). PADA zaman
Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya
tersebut.
Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria
dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman
legenda Pak Sakera. Mandor tebu dari Pasuruan ini hampir tak pernah
meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja.
Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa
hubungannya dengan carok? Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian.
Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antar penduduk
sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Pemicu dari carok ini berupa
perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam
turun-temurun selama bertahun-tahun.Pada abad ke-12 M, zaman kerajaan Madura
saat dipimpin Prabu Cakraningrat dan abad 14 di bawah pemerintahan Joko Tole,
istilah carok belum dikenal. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo,
putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah
carok.Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan
Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum
gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan
perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit.
Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa
itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan
golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda,
yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang
seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak
menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat
Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata
andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater
dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut.
Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang
muslim yang taat menjalankan agama Islam.
Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata
terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai
senjata para jagoan dan penjahat.Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil
merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau
ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu
menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung
harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya,
lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu. Tidak heran jika
terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada
keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan
carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit.
Begitu pula saat melakukan aksi kejahatan, juga menggunakan celurit.Kondisi semacam
itu akhirnya, masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Sulawesi
mengecap orang Madura suka carok, kasar, sok jagoan, bersuara keras, suka
cerai, tidak tahu sopan santun, dan kalau membunuh orang menggunakan celurit.
Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian.
Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun,
berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan
senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini
keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah
Belanda.Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya
carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik
itu di Bangkalan, Sampang, maupun Pamekasan. Mereka mengira budaya tersebut
hasil ciptaan leluhurnya, tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda.

Pergeseran
Budaya Carok
Dewasa ini Carok yang dilakukan oleh saudara-saudara
Madura telah bergeser. Jika dahulu merupakan duel hidup mati dan bisa
menyambung terus pada keturunannya hingga ke 7, maka sekarang ini Carok
dilakukan secara pengecut. Beberapa kasus yang terjadi justru timbul dengan
alasan yang tidak masuk akal. Hanya karena carger poncelnya dihilangkan,
seorang saudara sepupu tega membunuh kakaknya dengan
keroyokan(bolodewo-surabaya 12/1/2008). Gara-gara adiknya digoda tetangga,
seorang kakak membunuh tetangganya dari belakang (Arimbi-surabaya1999).
Gara-gara istrinya yang sudah dicerai 4 tahun silam kawin dengan temannya,
mantan suaminya mengeroyok suami istrinya tersebut bahkan membunuh sang mantan
istrinya (nyamplungan-surabaya 1993).
Carok yang terjadi sekarang berbeda dengan Carok pada
masa kejayaannya. Carok yang dilakukan sekarang sistimnya keroyokan yang tidak
berimbang. Kadang 1 lawan 3 atau 1 lawan 5. Celakanya lagi carok sekarang
kebanyakan menggunakan pembunuh bayaran yang rela masuk penjara atas nama uang
yang cuman Rp 100.000,-.. Contoh lagi yang sangat menggemparkan terjadi di
tahun 2005 di desa Galis. Ramai tersiar kabar pembunuhan massal karena kalah
jadi calon lurah.
Yang membuat esensi Carok menjadi terlihat pengecut
justru terjadi apabila yang membunuh masuk penjara, maka yang akan menjadi
incaran pembunuhan pihak korban adalah anaknya yang masih usia belasan atau
saudara lainnya yang masih ada hubungan darah meski jauh. Dan ini kerap
terjadi. Sekarang seorang tewas, maka dalam tempo 5 jam saudara atau keluarga
pihak yang membunuh akan tewas dibantai di tempat lain. Karena itu tak jarang
apabila seseorang telah melakukan pembunuhan pada orang lain, yang was-was
justru keluarga lainnya, karena takut dibantai pula.
Tamperamental watak suku Madura yang keras dengan
kondisi pulau yang panas, hampir penuh dengan perbukitan batu gamping dengan
kontur tanah yang nyaris tandus dan sedikit sumber mata air, jelas mempengaruhi
kondisi fisik maupun watak keras suku ini. Meski tidak semuanya demikian, namun
hampei rata-rata berwatak keras dan bersuara lantang kadang suka ngomong yang
ngawur.
Omongan inilah yang kerap jadi pemicu terjadinya Carok.
Contoh kasus yang terjadi di Jakarta pada tahun 2006. Seorang Madura yang
ditagih uang kontrakannya justru menjawab dengan “nanti saya bayar dengan
clurit” membuat tuan rumah geram dan membantainya dengan 16 tusukan dan tewas
seketika. Ini semua merupakan awal dari carok.
Meski iklim pesantren cukup membuat suasana watak suku
Madura dingin, namun hal itu tak bertahan lama. Karena rata-rata para tokoh
agamawan di Madura cenderung diam bila bicara soal harga diri. Hampir 90%
masyarakat Madura memilih anaknya untuk di pondokkan ke pesantren ketimbang
disekolahkan. Hal ini menurut beberapa sumber juga jadi penyebab tingkat
pendidikan yang kurang menimbulkan pikiran pendek masyarakatnya. Tak jarang
beberapa tokoh agamawan memberikan semacan azimat atau ijazah kepada mereka
untuk keselamatan, celakanya yang terjadi justru adalah keselamatan bagi
pembunuhnya bukan bagi target yang akan dibunuh.
Namun demikian, sekarang ini seiring dengan intelektual
masyarakat madura yang mulai banyak mengerti karena berpendidikan tingga,
menjadikan Carok mulai pudar sedikit demi sedikit. Carok yang awalnya bukan
budaya Madura, kemudian bermetamorfosa dengan kondisi dan menjadi lekat dengan
tradisi Madura, kini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh generasi
mudanya.
BAB III
PENUTUP
A .Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa kebudayaan dengan pendidikan sangat erat sekali keduanya saling
berkesinambungan dan tidak dapat dipisahkan karena saling dan membutuhkan
antara satu sama lainnya.
Dalam
konteks, dapat dilihat hubungan antara pendidikan dan kebudayaan. Kebudayaan
akan terlestarikan dalam setiap ini tentunya hanya akan mungkin terjadi bila
para generasi mudanya sebagai generasi penerus.
Transfer
nilai-nilai budaya atau cara yang paling efektif dalam mentrasnfer nilai-nilai
budaya adalah dengan cara proses pendidikan, karena keduanya sangat erat
hubungannya.
Budaya Carok adalah tradisi pembunuhan karena alasan tertentu yang berkaitan
dengan harga diri dan kemudian diikuti oleh antar kelompok atau antar-klan
menggunakan senjata (biasanya celurit).Tidak ada peraturan resmi dalam
pertarungan ini karena carok merupakan tindakan yang dianggap negatif dan
kriminal dan ilegal. Ini adalah bagaimana orang Madura dalam mempertahankan
harga diri dan “keluar” dari masalah yang rumit.Akan tetapi seiring dengan
perkembangan zaman dan kemajuan pedidikan maka budaya carok itu sekarang sudah
tergeserkan . Carok yang terjadi sekarang berbeda dengan Carok pada masa kejayaannya.
Carok yang dilakukan sekarang sistimnya keroyokan yang tidak berimbang. Kadang
1 lawan 3 atau 1 lawan 5.
DAFTAR PUSTAKA
1. carakata.blogspot.com/.../pengertian-pendidikan-menurut-para-ahli.h.
2. raflengerungan.wordpress.com/...pendidikan/pengertian-pendidikan/
3. www.anneahira.com/artikel-pendidikan/pengertian-pendidikan.htm
4. imamnugraha.wordpress.com/2011/05/13/pengertian-budaya/
5. www.anneahira.com/macam-macam-budaya.htm
7. //www.tretans.com


